Mengenal Elon Musk, Miliader Dengan Ambisi ‘Gila’

Share On Facebook
Share On Twitter
Mengenal Elon Musk, Miliader Dengan Ambisi 'Gila'

Mengenal Elon Musk, Miliader Dengan Ambisi ‘Gila’

Elon Musk baru saja mengungkapkan ambisi gilanya untuk memulai kolonisasi Planet Mars. Namun menurut penulis di bidang sains, Elizabeth Lopatto, rencana itu hanyalah angan-angan.

Salah satu hal yang disoroti Elizabeth adalah tiket perjalanan tersebut yang dianggapnya terlalu murah. Padahal, dibutuhkan biaya yang sangat mahal untuk melakukan misi ke Planet Mars.

Ambisi Elon Musk

CEO Space X, Elon Musk, membeberkan cara untuk mengirim satu juta manusia ke Mars. Dalam International Astronautical Congress di Meksiko pada 27 September 2016 lalu, ia mengungkap sistem transportasi antar planet yang sedang dikembangkannya, Interplanetary Transport System (ITS).

Menurut penjelasan pria kelahiran 1971 itu, ITS akan menggabungkan roket paling kuat dengan pesawat antariksa yang dirancang untuk membawa sedikitnya 100 orang dalam sekali penerbangan ke Mars.

Jika semua sesuai dengan rencana, ITS akan membantu manusia untuk membangun koloni permanen dan berkelanjutan di Mars dalam waktu 50 hingga 100 tahun ke depan.

“Yang benar-benar aku ingin lakukan di sini adakah untuk membuat Mars terlihat memungkinkan untuk dikunjungi,” ujar Musk seperti dikutip dari Live Science, Kamis (29/9/2016).

Arsitektur ITS Menurut Musk

Menurut Musk, ITS akan memiliki tinggi 122 meter dan menjadi sistem pesawat antariksa terbesar yang pernah dibangun, lebih tinggi dari roket legendaris Saturn V milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Jika semuanya telah siap, perjalanan dari Bumi ke Mars rencananya akan dilangsungkan sekali setiap 26 bulan dengan membawa 100 hingga 200 orang dalam sekali perjalanan.

Dalam perjalanan menuju Mars, para penumpangnya akan disuguhi dengan teater pemutar film, ruang kelas, dan restoran. “Akan sangat menyenangkan untuk pergi. Kamu akan menikmati waktu yang luar biasa,” ujar Musk.

Dengan menggunakan mesin Raptor, perjalanan dari Bumi ke Mars akan membutuhkan waktu sekitar 80 hari. Jika dibandingkan dengan teknologi yang tersedia saat ini, dibutuhkan enam hingga sembilan bulan untuk sampai ke Mars.

SpaceX juga berencana untuk membangun pabrik bertenaga surya di Mars yang menggunakan karbon dioksida dan es air di udara dan tanah Mars untuk diubah menjadi metana dan oksigen.

Bahan bakar pesawat ITS juga akan diisi ulang di Mars dan dikirim kembali ke Bumi, sehingga orang-orang tak harus tinggal di Planet Merah itu selamanya.

Setiap pesawat antariksa ITS diperkirakan dapat melakukan perjalanan hingga puluhan kali dan setiap mesin pendorongnya dapat digunakan lebih dari itu.

“Arsitektur pesawat angkasa luar ini memungkinkan biaya tiket kurang dari US$ 200.000 atau Rp 2,5 miliar. Kami pikir biaya itu dapat turun hingga di bawah US$ 100.000 atau 1,29 miliar,” ujar Musk.

Target Musk Waktu Dekat

Dalam dua tahun, Musk menargetkan mengumpulkan sebagian besar insinyur SpaceX untuk ITS dan menghabiskan sekitar US$ 300 juta atau Rp 3,8 triliun per tahun untuk mewujudkan proyek tersebut.

Musk juga mengajak organisasi lain untuk membantu SpaceX untuk membentuk koloni di Mars. Ia menyebut, upaya tersebut akan menjadi kerja sama yang sangat besar antara masyarakat dengan swasta.

Ia juga berharap dapat menyelesaikan pengembangan pesawat antariksa itu dalam empat tahun dan mulai melakukan pengujian suborbital setelahnya. Menurutnya, jika semua hal berjalan lancar, maka misi pertamanya akan meluncur dalam kurun 10 tahun.

ITS juga dapat digunakan untuk beberapa hal lain, dan memungkinkan manusia untuk mendarat di bulan Yupiter, Europa, atau mengirim kargo dari New ke Tokyo hanya dalam 25 menit.

Namun untuk saat ini, tujuan utama ITS adalah untuk membuat koloni di Mars, dan hal tersebut menjadi alasan Musk mendirikan SpaceX pada 2002.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *